Wednesday, November 7, 2007

Ritual Perang Api

Perang.. perang lagi.. di Lombok banyak perangnya.. hehehe.. ini episode terakhir posting tradisi perang di Lombok, namanya Perang Api (Mesabetan Api). Bedanya dengan tradisi perang lainnya, perang api ini hanya diikuti oleh masyarakat Lombok yang beragama Hindu dan diselenggarakan pada saat perayaan Nyepi. Perang api ini dipusatkan di Cakranegara yang memang rata-rata perkampungan Bali. Adalah warga Negare Sakah dengan warga di sekitar sweta Cakranegara, dua kawasan yang dipisahkan oleh jalan raya, perang diikuti oleh ratusan pemuda dengan menggunakan daun kelapa kering yang dibakar di tangan, disabetkan ke lawan hingga membentuk percikan-percikan api yang bertebaran. Ikatan daun kelapa kering itu diikat seperti sapu, dicelupkan ke minyak tanah kemudian dibakar. Setelah api menyala, lalu dimatikan dan baranya digunakan untuk memukul lawan, seru emang...

Tradisi perang api terjadi sejak lama, yakni saat datang wabah penyakit yang tidak jelas asalnya. Warga kedua kampung itu banyak yang meninggal. Maka untuk mengatasinya, ada yang mengajurkan dilakukan pembakaran api. Kegiatan perang api ini semula dinamakan Manca Sanah, yakni untuk mengusir Buta Kala. Ini dilakukan sebelum adanya Nyepi oleh warga Hindu di Lombok.

Tradisi ini sebenarnya juga dikenal di Pulau Bali, sejarah yang panjang Bali-Lombok memang memberikan kemiripan budaya yang kental apalagi di Lombok bagian Cakranegara adalah rata-rata perkampungan Bali. Biasanya perang dilakukan seusai pawai ogoh-ogoh serta upacara Tawur Kesange (memohon penyucian) di Pura Jaganatha Taman Mayura, ratusan warga Saka dan Sweta di Mataram saling serang di perbatasan kampung.

Tradisi perang api menyambut perayaan Nyepi ini tak dilakukan untuk menyakiti lawan. Mesabetan api ditujukan untuk mengeluarkan perasaan benci dan dendam. Acara ini bermakna agar manusia memerangi hawa nafsu yang disimbolkan sebagai api. Agar tak jatuh korban ritual ini disertai aturan ketat, peserta dilarang membakar kembali daun kelapa yang telah padam. Tak sedikit warga yang kulitnya melepuh terkena bara api, meski demikian mereka tak marah. Warga percaya bahwa bara api yang mengenai badan membantu melindungi mereka dari pengaruh roh jahat.

Bagi umat Hindu di Pulau Lombok, perang api tidaklah dilandasi napsu saling mengalahkan. Mesabetan api justru adalah semangat memerangi hawa nafsu khususnya saat Hari Raya Nyepi. Mereka percaya, manusia yang berhasil menaklukan hawa nafsu akan hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Read More ....

Monday, November 5, 2007

Tradisi Perang Timbung

Masih edisi tradisi perang, kalau di Lombok Barat ada perang ketupat sebagai wujud kerukunan agama islam-hindu, di Lombok Tengah juga ada tradisi perang yang dinamakan Perang Timbung atau Penimbungan yang tujuannya untuk upacara tolak marabahaya dan mengharapkan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa serta menjalin silaturrahmi dan kerukunan warga antara satu dengan lainnya tanpa adanya perbedaan. Perang timbung ini bagi masyarakat Lombok juga merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu, karena ada mitos yang berkembang di masyarakat sekitarnya bahwa terkadang prosesi perang timbung ini dijadikan sebagai ajang mencari jodoh dan sebagai saranan untuk menentukan hari baik. Timbung merupakan jajan tradisional suku Sasak Lombok yang terbuat dari bahan beras ketan yang dicampur dengan air perasan santan. Kedua bahan ini lalu dimasukkan dalam bambu dan dibakar dalam bara api.

Perang timbung ini dilaksanakan di desa pejanggik salah satu desa tertua di wilayah lombok yang merupakan daerah bekas pusat kerajaan. Acara dipusatkan di makam Serewe yang merupakan kompleks makam raja-raja Pejanggik dan keluarganya. Sama halnya dengan perang ketupat, upacara perang timbung inipun sebelumnya diawali dengan segala macam prosesi adat diantaranya parade budaya sasak, mengambil air suci di bale beleq (rumah besar) yang terletak di areal pemakaman di desa Pejanggik serta prosesi adat lainnya. Perangpun dimulai setelah diikuti dengan pukulan kentongan (kul-kul), hanya bedanya dengan perang ketupat, perang timbung ini lebih asik, karena perangnya antara cowok ma cewek..

Sejarah terjadinya Perang Timbung/Penimbungan ini adalah salah satu fatwa yang dititahkan oleh seorang Datu (Raja) yang berkuasa di sebuah Kerajaan yang bernama Kerajaan Poh Jenggi (Pejanggiq). Di kerajaan ini bertahta seorang Raja yang sangat bijaksana, Raja ini bertahta dengan gelar Datu Dewa Mas Pemban Aji Meraja Kusuma (Datu Pemban Pejanggiq). Kerajaan Pejanggiq adalah sebuah kerajaan fazal dari kerajaan Selaparang yang mempunyai pusat kerajaan di Perigi (Lombok Timur) yang memerintah di kerajaan Fazal Selaparang (Pejanggiq) ini adalah keturunan dari raja-raja Selaparang.

Ketika bertahta Dewa Mas Pemban Aji Meraja Kusuma di Pejanggiq ini, kondisi Kerajaan pada waktu itu sedang mengalami adanya kesalahpahaman dan ketidakharmonisan dengan kerajaan pusat yang akibatnya akan bermuara kepada konflik internal kerajaan. Sebagai seorang raja yang sangat fanatik dengan Islam, maka raja yang arif dan alim ini melalukan persemedian (Tapa Brata/berhaluat), dimana dalam haluatnya baginda mendapat hidayah dari Yang Maha Kuasa yaitu petunjuk bahwa Negeri ini akan ditimpa petaka yang sangat dahsyat dan akan mengalami keruntuhan.

Baginda Raja mengakhiri haluatnya dengan memanggil seluruh Pemating (punggawa kerajaan) dan semua Pandite (tabib) yang ada untuk mentakbir hidayah yang datang di haluat baginda Raja, hidayah ini dibahas berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Disaat Gondem dilakukan oleh semua perkanggo Kerajaan, muncul salah seorang Pandite sepuh mengajukan usul kepada Baginda bahwa sesuatu itu adalah rahmat, dan rahmat itu senantiasa diturunkan oleh Tuhan selalu dengan hikmahnya, demikian pula jika hal ini adalah sebuah Penyakit, maka Tuhan akan menurunkan penawarnya. Demi keberlangsungan Gumi Paer (tanah pulau) kerajaan Pejanggiq dan langgengnya kekuasaan raja kiranya apa yang akan terjadi di negeri ini akan diantisipasi dengan tumbal, dan tumbal disini bukan berarti mengorbankan sesuatu yang sangat berlebihan, akan tetapi dalam hal ini sang raja cukup dengan bertitah kepada segenap Kawule (rakyat) Kerajaan Pejanggiq untuk melakukan ritual Tolak Balaq (Tolak Bala) dengan membuat jajan Pelemeng (timbung) yang terbuat dari Beras Pulut/ketan yang dicampur dengan perasan santan kental dan dibungkus dengan bilah bambu.

Baginda Rajapun memerintahkan kepada para punggawa kerajaan agar semua mengerahkan seluruh kawule/masyarakat Pejanggiq agar melakukan upacara ritual tersebut sebagai wujud implementasi keputusan gondem, dengan tidak menunda-nunda waktu semua Punggawa dengan segera memukul kentongan (kul-kul) sebagai pertanda adanya dedawuhan dari kerajaan, dengan kul-kul semua kalawarga masyarakat Gumi Paer Pejanggiq ketika itu berduyun-duyun mendatangi alun-alun (lendang galuh) untuk menerima titah sang raja. Datu berinstruksi langsung kepada khalayak dengan titahnya bahwa pada suatu saat nanti, kerajaan Pejanggiq ini akan mengalami bencana perpecahan, perpecahan ini akan berakibat kepada keruntuhan kerajaan, perpecahan ini nantinya akan timbul dari dalam negeri ini sendiri. untuk itu kepada seluruh kawula agar melaksanakan sebuah upacara ritual sebagai upaya antisipasi agar tidak terjadinya bencana itu, caranya membuat timbung untuk bahan dari upacara tersebut sebagai wujud persembahan kepada sang pencipta, menyantuni anak-anak yatim/piatu, menyayangi orang-orang tua dan memperkuat kebersamaan melalui silaturrahmi diantara semua kawula. Upacara ini hendaknya dilakukan setiap tahun dan ditahun itu akan ada tanda-tanda alam seperti berbunganya sebuah pohon besar disekitar makam raja kelak (pohon Dangah). Jangan sekali-kali melakukan ritual ini pada hari jumat minggu terakhir pada bulan bersangkutan. Sabda raja adalah sabda pandite, sabda pandite adalah andika mulia apapun yang tititahkan raja maka segenap kalawarga kerajaan Pejanggiq akan senantiasa melaksanakannya, pantang jika perintah raja ditolak karena itu adalah berbuatan melawan atau pemali (tabu) apalagi ini adalah perintah melakukan ritual.

Read More ....

Friday, November 2, 2007

Upacara Perang Ketupat

Kalau tidak salah bulan2 ini saatnya gugurnya bunga waru dalam bahasa lombok “raraq kembang waru” saat event perang ketupat di Lombok. Perang topat (ketupat) setiap tahun berlangsung di Pure Lingsar, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Acara ini merupakan lambang kerukunan antar umat beragama, khususnya masyarakat Sasak (pemeluk Islam) dan masyarakat etnis Bali (pemeluk Hindu). Perang topat dimulai sore hari sekitar pukul 15.30, dan berakhir saat matahari tenggelam. Perang ini tidak seperti di iraq sana pake bedil sampe mati, tapi perang dengan amunisi ketupat. Tapi lumayan juga loh kalo sampai kena lemparan telak, apalagi sekarang anak2 mudanya pada jahil semua, beberapa amunisi diisi nasi basi bahkan telur busuk, nah loh.. bisa kebayang deh kalo kena muka

Metode perangpun diatur sedemikian rupa dimana terdiri dari 2 pasukan yaitu atas-bawah. Pasukan atas berada di dataran atas pura, sedangkan pasukan bawah ada di dataran bagian bawah pura. Sebelum perang dimulai diawali dengan pukulan kentongan (kul-kul) yang bersahut2an selama 1 jam. Ratusan amunisi ketupat sudah disiapkan kedua kubu, bila bunyi kentongan semakin keras dan komando mulai perang sudah diteriakkan maka perangpun dimulai. Ketupat2 tadi jadi amunisi saling lempar antara 2 kubu atas-bawah.

Tiap ketupat yang sudah dilempar diperebutkan kembali oleh warga, maksudnya adalah sebagai keberkahan dan keselamatan. Tapi kenapa ya, berebut ketupat yang sudah hancur dipakai melempar yang isinya udah klewer-ewer semua, padahal ketupat yang masih baru masih ratusan lagi banyaknya. Itulah uniknya tradisi ini, ketupat yang sudah hancur tadi dipunguti oleh warga khususnya petani, untuk dibawa pulang dan ditempatkan di sudut-sudut pematang sawah atau digantung di pohon buah-buahan karena dipercaya bisa mendatangkan keberkahan.

Upacara perang topat juga menjadi salah satu agenda pariwisata. Wanita yang sedang haid dilarang dan tak boleh mengikuti perang (hayo kenapa??). Sehari sebelumnya ada upacara permulaan kerja atau “penaek gawe”. Ada lagi acara “mendak” alias upacara menjemput tamu agung alias roh-roh gaib yang berkuasa di Gunung Rinjani dan Gunung Agung. Kemudian ada pula penyembelihan kerbau. Ada sesajen berupa jajan sembilan rupa, buah-buahan, serta berbagai macam minuman.

Memang perang topat tak lepas dari legenda. Konon di Lombok Barat dulu ada Kerajaan Medain. Raja Medain punya anak bernama Raden Mas Sumilir yang bergelar Datu Wali Milir. Suatu ketika ia menancapkan tongkatnya di tanah Bayan. Saat tongkat itu ditarik, air pun muncrat, melaju deras. Dalam bahasa Sasak, melaju artinya langser atau lengsar. Desa itu pun lalu diberi nama Lingsar. Entah bagaimana, Sumilir hilang di situ. Atas musibah itu, seisi istana dan warga sedih. Kesedihan itu berlarut hingga dua tahun. Buntutnya, semua orang melupakan urusan kehidupan. Suatu ketika keponakan Sumilir, Datu Piling, menemukan pamannya itu di lokasi mata air tadi. Dalam pertemuan itu disebutkan, kalau mau menemui Sumilir, hendaklah datang ke mata air itu. Maka Datu Piling pun memerintahkan pengiringnya untuk menyambut pertemuan itu. Ketupat beserta lauknya dipersiapkan. Pertemuan pun terjadi sore saat matahari di ufuk barat (sehingga upacara dilaksanakan sore sekitar pukul 16.00 sampai menjelang matahari tenggelam). Setelah itu Raden Mas Sumilir kembali menghilang. Tapi sejak Sumilir menghilang kedua kalinya, warga Lingsar kembali menikmati kemakmuran. Sumber air melimpah, dan siap dipakai mengairi sawah. Perang ketupat pun lantas dilestarikan sebagai ungkapan rasa syukur, menandai saat dimulainya menggarap sawah.

Read More ....

Wednesday, October 31, 2007

Gerabah, Lombok Handicraft

Adalah Dewi Anjani yang pertama mengajarkan cara membuat gerabah kepada masyarakat Lombok. Alkisah, Lombok dihuni sepasang manusia Inaq Beleq dan Amaq Beleq. Keduanya adalah penghuni pertama Pulau Lombok yang sedang kebingungan menanak beras dari panen pertama. Dalam bingung, mereka bersimpuh dalam seribu tabik, dan mulai berdoa., Dewi Anjani mendengar doanya. Sejurus kemudian ia mengutus Manuk Bre untuk mengajari mereka mengolah tanah gunung menjadi pemangkaq (periuk) agar mereka dapat hidup dan menikmati hasil panen. Dari sinilah tradisi gerabah lahir.

Maka, tak mengherankan jika hampir seluruh perabot gerabah Lombok awalnya tercipta untuk keperluan ritual agama. Hal ini dapat ditelusuri dari sejumlah temuan arkeologis di Lombok. Salah satunya dari situs Gunung Piring, Lombok Tengah. Pada 1976, dari sebuah ekskavasi, ditemukan sejumlah peralatan prosesi pemakaman yang diperkirakan berasal dari abad ke-6 Masehi. Alat itu di antaranya sebuah kendi dan wadah gerabah yang diletakkan sebagai barang bawaan si mati. Mereka percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Kendi dan wadah gerabah itu untuk menemani si mati agar tidak kehausan dan kelaparan saat menuju dunia kekal.
Hingga kini, perabot gerabah masih menjadi pilihan buat kegiatan keagamaan atau upacara tradisional. Misalnya dalam upacara Gawe Mata Aiq, upacara memulai musim tanam padi. Di Lombok Timur, upacara ini didahului dengan membawa sejumlah makanan dan minuman dalam berbagai wadah gerabah, seperti pendaig (wadah air) dan kendi. Menurut tradisi suku Sasak, pembuatan gerabah juga memiliki musim dan waktu khusus. Misalnya pembuatan kemberasan (tempat penyimpan beras) harus dilakukan pada bulan Maulid atau bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pembuatan kemberasan juga harus dilakukan oleh wanita hamil. Sebelum memulai pekerjaannya, si pembuat harus terlebih dahulu menyiapkan persyaratan seperti segenggam gabah, secarik kain tenun, koin Cina kuno, dan sirih yang semuanya dimasukkan dalam keranjang. Semuanya dimaksudkan agar kemberasan yang dibuat dapat memberikan kesejahteraan bagi si pengguna. Ornamen dekoratif yang menghias kemberasan juga memiliki arti khusus. Misalnya simbol bulatan kecil, bulan sabit, atau anak tangga yang diukir mengelilingi wadah. Bulatan kecil melambangkan wanita hamil, hiasan tangga kerap dihubungkan dengan jalan menuju lumbung padi. Hingga kini, dekorasi pada sejumlah gerabah Lombok masih memiliki arti religius. Gerabah di Lombok juga kerap mempunyai kekuatan magis penolak bala. Salah satu yang paling popular adalah lampu wayang atau dila wayang berbentuk bulat dengan tempat minyak berada di tengah yang dipercaya dapat dipakai menolak segala bentuk kejahatan jika dinyalakan di depan rumah. Bagi masyarakat Lombok, pergelaran cerita wayang Sasak atau lebih dikenal sebagai wayang menak adalah kegiatan sakral. Biasanya pergelarannya dilakukan berhubungan dengan acara adat desa. Cerita wayang itu menyerap dari sejumlah kisah seputar penyebaran agama Islam, di samping kehidupan agung Nabi Muhammad SAW.
Cerita wayang menak terdiri dari 100 kisah yang ditulis di daun lontar dan diturunkan oleh keluarga dalang lewat tradisi lisan. Hingga kini banyak lampu wayang jenis ini yang dibuat massal untuk aksesori. Dari tradisi ritual inilah kemudian lahir berbagai perabot rumah tangga yang merupakan perkembangan bentuk dari sejumlah bejana ritual. Menurut Jean McKinnon dalam bukunya Vessels of Life, Lombok Red Spot Plate Earthenware (1996), ketersediaan bahan baku yang melimpah dan kemampuan masyarakat Lombok mengadopsi bejana ritual untuk keperluan keseharian membuat tradisi ini terus eksis. Dari sinilah kemudian lahir puluhan jenis bejana yang kini masih dijumpai di dapur masyarakat suku Sasak. Sebut saja, misalnya, jangkih (kompor tanah liat), gubung (wadah untuk menyimpan nira), serta pepelesan (tempat kue).
Soal asal-muasal tradisi pembuatan gerabah di Lombok, banyak mengaitkan dengan tradisi pembuatan gerabah di pulau Jawa.. Selain tergambar dari sejumlah panel relief di candi Borobudur, sejarah juga mencatat pada abad ke-5 hingga ke-6 terjadi gelombang migrasi dari Jawa ke Bali dan terus ke Lombok. Hal ini disebabkan runtuhnya Kerajaan Daha dan Kalingga.
Dari penelitian Rulof Goris, dikatakan bahwa alat transportasi laut yang dipakai menyeberang oleh para migran dari dan ke Lombok disebut "sak-sak" (rakit bambu). Kemungkinan nama Sasak suku tradisional di Lombok berasal dari kata sak-sak. Hubungan antara Jawa, Bali, dan Lombok semakin kuat dengan ditemukannya sebuah nekara (tong, perunggu) berangka tahun 1077 Masehi di Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Nekara itu bertuliskan huruf kuadrat berbunyi "Sasak Dana Prihan Srih Jaya Nira", yang artinya bahwa benda ini adalah pemberian dari orang-orang Sasak. Selanjutnya sejarah mencatat, sekitar abad ke-14, Kerajaan Majapahit di bawah rajanya, Hayam Wuruk, sempat singgah di Lombok, sebagaimana tertulis dalam kitab Negarakertagama. Adanya pertunjukan wayang lelendong (wayang kulit) dan wayang wong (orang), perangkat gamelan berupa gendang, kemong, gong di Lombok-seperti dikenal di Jawa dan Bali membuktikan hubungan erat tiga pulau tersebut. Tak pelak, tradisi gerabah turut tersebar lewat persentuhan budaya tersebut.

Read More ....